PEDOMAN PENELITIAN KUALITATIF STUDI KASUS

PEDOMAN PENELITIAN KUALITATIF

STUDI KASUS

I. PENDAHULUAN

Hakikat kehadiran setiap individu dalam proses hidup ini, diantaranya adalah mengemban status dan peran sebagai ‘terdidik dan mendidik’. Asumsi itulah yang menyebabkan kita semua apabila memahami dan mengkaji tentang ‘peran atau fungsi guru’ dalam proses mendidik diri sendiri dan peserta didik di sekolah tidak akan habis untuk diperbincangkan, baik pada level masyarakat awan maupun level masyarakat ilmuwan.

Dari beberapa kajian ilmiah berkaitan dengan fungsi dan peran guru dalam proses pembelajaran tentang ilmu pengetahuan atau pola budaya pada peserta didik, menyimpulkan bahwa kedudukan guru memegang peran sentral sebagai: (1) Salah satu media pentransfer ilmu pengetahuan pada anak; (2) Pembimbing proses perubahan pola perilaku kehidupan anak didik kearah lebih baik; dan (3) Fasilitator/ pengarah dalam proses pemecahan beragam problem peserta didik yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan persoalan pribadi sebagai warga masyarakat. Agar setiap guru BP/BK mampu menjalankan ketiga peran sentral tersebut, maka setiap guru BP/BK disepanjang waktu harus terus berjuang untuk meningkatkan kualitas profesinya, khususnya berkaitan dengan kualitas pelayanan  ketiga peran tersebut. Kualitas kompetensi profesional guru BP/BK adalah menyangkut: Kompetensi kepribadian; kompetensi sosial; kompetensi paedagogik; dan kompetensi profesi.

Baca lebih lanjut

Mengapa Kebiasaan Membaca Masih Belum Berkembang?

Mengapa Kebiasaan Membaca Masih Belum Berkembang?

Sudirman Siahaan dan Rr Martiningsih

Abstrak: Kegiatan membaca merupakan jendela dunia. Dengan banyak membaca berarti seseorang dapat memperoleh berbagai informasi yang berkembang, baik yang sifatnya lokal, nasional maupun yang global. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat belajar mengenai berbagai hal mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks. Tetapi yang menjadi keprihatinan adalah kegiatan membaca masih belum menjadi kebiasaan atau kebutuhan hidup masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati tentang kegiatan yang cenderung dilakukan masyarakat luas untuk mengisi waktu luangnya. Berbagai bentuk waktu luang yang dimiliki masyarakat, misalnya (1) menunggu giliran berobat di tempat praktek dokter atau rumah sakit, (2) sedang menunggu keberangkatan sarana transportasi di stasiun kereta apai, stasiun bus, di bandara, di pelabuhan laut, (3) sedang dalam perjalanan menggunakan fasilitas kereta api, bus, pesawat udara atau kapal laut, (4) sedang mengantri membeli obat di apotek, (5) sedang menunggu giliran di Bank, atau (6) sedang menunggu kedatangan seseorang. Tentunya ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa kegiatan membaca masih belum berkembang menjadi kebiasaan atau kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat Indonesia. Beberapa di antara faktor yang kemungkinan menjadi penyebabnya inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian. Oleh karena itu, yang menjadi tujuan penulisan artikel ini adalah untuk berbagi pemikiran/pendapat tentang mengapa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia masih rendah dan melakukan kajian tentang upaya-upaya yang dipandang/dinilai dapat menciptakan kondisi yang mendorong seseorang untuk secara teratur membiasakan dirinya banyak membaca.

Baca lebih lanjut

Pengembangan Model Konseling Berfokus Konflik Resolusi Antar Teman Sebaya di Kalangan Remaja

Oleh: Latipun

Ketua ABKIN Cabang Kabupaten Malang/

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(email: lativ_un1@yahoo.com)

ABSTRAK

Konflik antar teman sebaya di kalangan remaja banyak kita jumpai terjadi di masyarakat. Untuk menyelesaikan konflik yang efektif perlu dikembangkan suatu model konseling yang sesuai untuk kasus tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konseling berfokus resolusi konflik antar teman sebaya (Konseling RKS) yang memiliki validitas, kepraktisan dan keefektifan dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja. Pendekatan penelitian adalah penelitian pengembangan. Subjek sebanyak 105 individu (90 siswa, 3 konselor dan 4 dosen) di Malang (Jawa Timur) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat). Data kuantitatif diperoleh dengan skala sedangkan data kualitatif dikumpulkan dengan observasi partisipasi dan wawancara. Analisis data kualitatif dilakukan analisis triangulasi dan analisis data kuantitatif dilakukan dengan uji-t. Konseling RKS yang dikembangkan terdiri dari: latar belakang, pendekatan dan teori pndukung,  ruang lingkup, prosedur, dan keefektifan dan cara penilaian. Hasil penelitian mempunyai bukti yang cukup bahwa Konseling RKS adalah model yang valid dan praktis dan dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Konseling RKS juga efektif dalam meningkatkan perilaku anti kekerasan dan permusuhan, meningkatkan penggunaan strategi penyelesaian konflik yang damai dan membangun perdamaian.

Kata kunci: konseling, resolusi konflik, remaja, pengembangan model, perilaku damai, anti kekerasan. Baca lebih lanjut