PEDOMAN PENELITIAN KUALITATIF STUDI KASUS

PEDOMAN PENELITIAN KUALITATIF

STUDI KASUS

I. PENDAHULUAN

Hakikat kehadiran setiap individu dalam proses hidup ini, diantaranya adalah mengemban status dan peran sebagai ‘terdidik dan mendidik’. Asumsi itulah yang menyebabkan kita semua apabila memahami dan mengkaji tentang ‘peran atau fungsi guru’ dalam proses mendidik diri sendiri dan peserta didik di sekolah tidak akan habis untuk diperbincangkan, baik pada level masyarakat awan maupun level masyarakat ilmuwan.

Dari beberapa kajian ilmiah berkaitan dengan fungsi dan peran guru dalam proses pembelajaran tentang ilmu pengetahuan atau pola budaya pada peserta didik, menyimpulkan bahwa kedudukan guru memegang peran sentral sebagai: (1) Salah satu media pentransfer ilmu pengetahuan pada anak; (2) Pembimbing proses perubahan pola perilaku kehidupan anak didik kearah lebih baik; dan (3) Fasilitator/ pengarah dalam proses pemecahan beragam problem peserta didik yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan persoalan pribadi sebagai warga masyarakat. Agar setiap guru BP/BK mampu menjalankan ketiga peran sentral tersebut, maka setiap guru BP/BK disepanjang waktu harus terus berjuang untuk meningkatkan kualitas profesinya, khususnya berkaitan dengan kualitas pelayanan  ketiga peran tersebut. Kualitas kompetensi profesional guru BP/BK adalah menyangkut: Kompetensi kepribadian; kompetensi sosial; kompetensi paedagogik; dan kompetensi profesi.

Baca lebih lanjut

Pengaruh Gaya Pengasuhan Orangtua Terhadap Kemandirian Remaja

Pengaruh Gaya Pengasuhan Orangtua Terhadap Kemandirian Remaja

Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kepribadian seorang anak. Seorang anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang mandiri baik dalam hal emosi, berbuat, maupun berprinsip yang hal tersebut sangat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orangtua dalam lingkungan keluarganya. Sehubungan dengan gaya pengasuhan orangtua dan hubungannya dengan kemandirian para remaja, hal yang terpenting diketahui oleh para orangtua bahwa seorang remaja juga sangat membutuhkan dukungan daripada sekedar pengasuhan, seorang remaja juga membutuhkan bimbingan daripada sekedar perlindungan, seorang remaja juga membutuhkan pengarahan daripada sekedar sosialisasi, dan seorang remaja dalam kehidupannya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang (kebutuhan psikis) daripada sekedar pemenuhan kebutuhan fisik/materi semata. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut sangat terkait pula dengan gaya pengasuhan yang diperankan oleh para orangtuanya, yang pada akhirnya juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya kemandirian pada diri seorang anak ketika ia tumbuh menjadi seorang yang dewasa kelak.

A.    Pendahuluan

Semua orangtua tentu saja mengharapkan anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang cerdas, bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun harapan tersebut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dituntut kesabaran, keuletan dan Baca lebih lanjut

[download] Konseling Trauma Pasca Ujian Nasional

KONSELING TRAUMA PASCA UJIAN NASIONAL

Oleh    : Team Konseling Trauma Pasca Ujian Nasional

Abstrak

Konseling merupakan bantuan yg bersifat terapeutis yg diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli, dilaksanakan face to face antara konseli dan konselor, melalui teknik wawancara dengan konseli sehingga dapat terentaskan permasalahan yang dialaminya.

Konseling pasca trauma yaitu konseling yang diselenggarakan dalam rangka membantu konseli yang  mengalami peristiwa traumatik,agar konseli dapat keluar dari peristiwa traumatik yang pernah dialaminya dan dapat mengambil hikmah dari peristiwa trauma tersebut.

Baca lebih lanjut

Trauma Pasca Ujian Nasional

Trauma Pasca Ujian Nasional

TRIYONO, S.Pd

(Konselor Sekolah SMPN 2 Tegalombo Pacitan  Jawa Timur)

Ujian Nasional tahap I telah berlalu, sebentar lagi anak-anak SMP/MTs  dan SMA/MA akan segera menikmati hasilnya. Yaitu berupa pengumuman  hasil ujian nasional (NUN). Apakah anak-anak nanti dinyatakan mengulang/ menempuh ujian tahap II atau tidak mengulang/menempuh ujian tahap II?

Ya… pengumuman ujian nasional nanti anak-anak tidak dinyatakan lulus/ tidak lulus, tetapi dinyatakan dengan kalimat  “mengulang/menempuh ujian nasional tahap II atau tidak mengulang/menempuh ujian tahap II. Hal ini disebabkan ujian nasional untuk tingkat SMP/ MTs dan Tingkat SMA/ MA/SMK, dilaksanakan dua kali, berlaku bagi anak-anak yang belum berhasil pada Ujian Nasional Tahap I.

Bagi peserta yang langsung lolos pada ujian nasional tahap I, saya ucapkan selamat! dan bagi peserta ujian nasional yang belum lolos, kesempatan masih terbentang luas, saya ucapkan “selamat, anda sedang menghadapi tantangan yang menggairahkan!”

Baca lebih lanjut

Mengapa Kebiasaan Membaca Masih Belum Berkembang?

Mengapa Kebiasaan Membaca Masih Belum Berkembang?

Sudirman Siahaan dan Rr Martiningsih

Abstrak: Kegiatan membaca merupakan jendela dunia. Dengan banyak membaca berarti seseorang dapat memperoleh berbagai informasi yang berkembang, baik yang sifatnya lokal, nasional maupun yang global. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat belajar mengenai berbagai hal mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks. Tetapi yang menjadi keprihatinan adalah kegiatan membaca masih belum menjadi kebiasaan atau kebutuhan hidup masyarakat Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati tentang kegiatan yang cenderung dilakukan masyarakat luas untuk mengisi waktu luangnya. Berbagai bentuk waktu luang yang dimiliki masyarakat, misalnya (1) menunggu giliran berobat di tempat praktek dokter atau rumah sakit, (2) sedang menunggu keberangkatan sarana transportasi di stasiun kereta apai, stasiun bus, di bandara, di pelabuhan laut, (3) sedang dalam perjalanan menggunakan fasilitas kereta api, bus, pesawat udara atau kapal laut, (4) sedang mengantri membeli obat di apotek, (5) sedang menunggu giliran di Bank, atau (6) sedang menunggu kedatangan seseorang. Tentunya ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa kegiatan membaca masih belum berkembang menjadi kebiasaan atau kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat Indonesia. Beberapa di antara faktor yang kemungkinan menjadi penyebabnya inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian. Oleh karena itu, yang menjadi tujuan penulisan artikel ini adalah untuk berbagi pemikiran/pendapat tentang mengapa kebiasaan membaca masyarakat Indonesia masih rendah dan melakukan kajian tentang upaya-upaya yang dipandang/dinilai dapat menciptakan kondisi yang mendorong seseorang untuk secara teratur membiasakan dirinya banyak membaca.

Baca lebih lanjut

Apakah Kita Sering “Mut-Mut-an?”

Apakah Kita Sering “Mut-Mut-an?”

Oleh : Ubaydillah, AN

Keunikan Mood Rasa-rasanya sudah biasa kita menggunakan istilah mood. Umumnya, istilah mood itu kita pahami sebagai suasana batin tertentu, bisa bad dan bisa good. Kalau melihat ke pendapat ahli, seperti yang dikutip Wikipedia misalnya, mood adalah keadaan emosi (state of emotion) yang berlangsung secara relatif, yang sebab-sebabnya seringkali subyektif atau tidak jelas. Jika seseorang merasa takut, itu ada sebabnya, entah faktual atau perceptual (sebab-sebab yang dipersepsikan seseorang). Sama juga kalau seseorang merasa gembira. Kegembiraan muncul karena sebab-sebab tertentu. Tapi untuk mood, sebabnya seringkali tidak jelas atau stimulusnya kerap kurang faktual. Misalnya  saja, kita tahu-tahu merasa bad mood saat mau berangkat ke kantor. Baca lebih lanjut

Pengembangan Model Konseling Berfokus Konflik Resolusi Antar Teman Sebaya di Kalangan Remaja

Oleh: Latipun

Ketua ABKIN Cabang Kabupaten Malang/

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(email: lativ_un1@yahoo.com)

ABSTRAK

Konflik antar teman sebaya di kalangan remaja banyak kita jumpai terjadi di masyarakat. Untuk menyelesaikan konflik yang efektif perlu dikembangkan suatu model konseling yang sesuai untuk kasus tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konseling berfokus resolusi konflik antar teman sebaya (Konseling RKS) yang memiliki validitas, kepraktisan dan keefektifan dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja. Pendekatan penelitian adalah penelitian pengembangan. Subjek sebanyak 105 individu (90 siswa, 3 konselor dan 4 dosen) di Malang (Jawa Timur) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat). Data kuantitatif diperoleh dengan skala sedangkan data kualitatif dikumpulkan dengan observasi partisipasi dan wawancara. Analisis data kualitatif dilakukan analisis triangulasi dan analisis data kuantitatif dilakukan dengan uji-t. Konseling RKS yang dikembangkan terdiri dari: latar belakang, pendekatan dan teori pndukung,  ruang lingkup, prosedur, dan keefektifan dan cara penilaian. Hasil penelitian mempunyai bukti yang cukup bahwa Konseling RKS adalah model yang valid dan praktis dan dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Konseling RKS juga efektif dalam meningkatkan perilaku anti kekerasan dan permusuhan, meningkatkan penggunaan strategi penyelesaian konflik yang damai dan membangun perdamaian.

Kata kunci: konseling, resolusi konflik, remaja, pengembangan model, perilaku damai, anti kekerasan. Baca lebih lanjut