Trauma Pasca Ujian Nasional


Trauma Pasca Ujian Nasional

TRIYONO, S.Pd

(Konselor Sekolah SMPN 2 Tegalombo Pacitan  Jawa Timur)

Ujian Nasional tahap I telah berlalu, sebentar lagi anak-anak SMP/MTs  dan SMA/MA akan segera menikmati hasilnya. Yaitu berupa pengumuman  hasil ujian nasional (NUN). Apakah anak-anak nanti dinyatakan mengulang/ menempuh ujian tahap II atau tidak mengulang/menempuh ujian tahap II?

Ya… pengumuman ujian nasional nanti anak-anak tidak dinyatakan lulus/ tidak lulus, tetapi dinyatakan dengan kalimat  “mengulang/menempuh ujian nasional tahap II atau tidak mengulang/menempuh ujian tahap II. Hal ini disebabkan ujian nasional untuk tingkat SMP/ MTs dan Tingkat SMA/ MA/SMK, dilaksanakan dua kali, berlaku bagi anak-anak yang belum berhasil pada Ujian Nasional Tahap I.

Bagi peserta yang langsung lolos pada ujian nasional tahap I, saya ucapkan selamat! dan bagi peserta ujian nasional yang belum lolos, kesempatan masih terbentang luas, saya ucapkan “selamat, anda sedang menghadapi tantangan yang menggairahkan!”

Tanggapan atau reaksi kita dalam menyikapi hasil ujian nasional inipun tentunya akan beragam. Bagi mereka yang lolos, sementara waktu akan sangat gembira, tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan jumlah dan rata-rata nilainya?.  Sangat memuaskan, memuaskan, cukup memuaskan atau bahkan kurang memuaskan? Bagi anda yang nilainya tinggi, tentunya akan sangat gembira, ini berarti meringankan beban anda untuk memilih sekolah lanjut, tentunya kalian tinggal menyiapkan syarat-syarat lain yang dipersyaratkan sekolah lanjut yang ingin anda tuju. Misalnya kesiapan fisik dan psikologis anda untuk mengantisipasi tes bakat dan minat dan tes potensi akademik serta tes-tes lainnya. Sedangkan yang nilai Ujian Nasionalnya sedang-sedang saja, tentunya anda harus jeli menimang-nimang dan berfikir realitis tentang kemungkinan sekolah lanjut yang ingin dituju. Dan bagi yang nilainya tergolong cukup, sebenarnya tidak apa-apa kalau kalian melanjutkan ke sekolah lanjutan atas (yang dari SMP/ M Ts) dan Perguruan Tinggi (yang dari SMA/MA) tetapi akan lebih bijak kalau anda pilih saja sekolah kejuruan (yang dari SMP/M Ts ) atau Perguruan Tinggi setingkat diploma semisal politeknik atau polibisnis (dari SMA/MA/SMK). Tentunya sekolah kejuruan yang anda pilih adalah sekolah kejuruan yang paling sesuai dengan bakat dan minat anda). Bagi yang pernah tes bakat dan minat tidak ada salahnya kalian buka-buka kembali hasil tes bakat dan minat anda, atau  anda bisa bertanya atau konsultasi dengan guru BK/ Konselor sekolah anda.

Bagaimana dengan anda yang belum berhasil? atau harus mengikuti/ menempuh ujian tahap II? Anda sebaiknya membaca kelanjutan artikel ini!

Menyikapi Kegagalan dalam perspektif Rational Emotif Therapy

GAGAL….. Adalah kata yang rasanya tidak mengenakkan, menyakitkan bahkan menyesakkan hati kita. Siapa yang ingin gagal dalam hidupnya? Jawabnya, tentu tidak ada! Semua orang ingin berhasil dalam usahanya, ingin sukses dalam belajarnya, ya pokoknya sukses dalam segala hal. Dan apa bila kegagalan hadir dalam kehidupan kita berarti itu adalah “masalah”.

Masalah terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang kita terima. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia masalah adalah ma·sa·lah n sesuatu yg harus diselesaikan (dipecahkan)”, jadi kita berkewajiban menyelesaikan segenap permasalahan yang kita alami. Masalah bukan untuk dihindari tetapi harus dihadapi dan dicarikan  solusinya. Masalah bukanlah hambatan tetapi tantangan yang menggairahkan! Ada pepatah mengatakan : masalah adalah keberhasilan yang tertunda. Bahkan Thomas Alfa Edison harus sekian ratus kali untuk mengulang kegagalannya sampai akhirnya menemukan bola lampu. Pesan kata apa yang disampaikan Thomas Alfa Edison dalam menyikapi “kegagalannya?”  “Saya tidak gagal, tetapi saya baru menemukan satu cara lagi untuk tidak saya ulanginya lagi!”

Bagaimana kalau kita menunda-nunda masalah? Masalah yang kita tunda akan amengendap dialam ambang/bawah sadar kita (istilah psikoanalisis), semakin banyak masalah yang kita endapkan semakin menumpuk “sampah masalah” dalam otak kita. Akibat berikutnya kita akan mengalami kecemasan. Kecemasan adalah perasaan takut terhadap sesuatu hal, tetapi kita tidak mengetahui mengapa kita merasa takut. Ini berarti obyek yang kita takutkan tersebut tidak nampak. Sehingga kita terus merasa gelisah, resah dan tertekan. Hal ini apabila didiamkan berlarut, bisa menimbulkan stress berat, depresi bahkan kita bisa gila!

Apa yang harus kita lakukan?

Kembali kepada persepsi kita terhadap siswa yang belum lolos (bukan lulus) ujian nasional, ada baiknya saya mengutip tulisan dalam artikel tentang  Rational Emotive sebagai berikut:

Menurut pandangan rasional emotif, manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional, manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri, orang lain, dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya, akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa; selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebih-lebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya; Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional.

Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya, memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimaui harus terjadi, mengontrol dunia, dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna; menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu, tak terlalu jelek/memalukan namun dibiarkan terus berlangsung, dan menghalangi seseorang kembali ke kejadian awal dan mengubahnya. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya, kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Itu berarti salah saya, karena saya tak berharga, tak seperti orang/teman-teman lainnya. Saya pantas menderita karena semuanya itu.

Anda bisa juga berfikir irrasional, karena tidak lolos ujian nasional. Anda menganggap diri anda “bodoh dan tak berdaya”. Anda menikmati rasa bersalah terlalu berlebihan. Anda berkeyakinan “percuma melakukan perubahan, Tuhanpun sudah tak peduli nasib yang menimpa anda”.

Sungguhpun kalau anda mau menyadari. Apa yang anda lakukan adalah bertolak dari apa yang anda rasakan. Dunia ini anda rasakan jahad, kejam dan tak peduli, andapun akan jadi pribadi yang menutup diri, sinis dan acuh tak acuh. Dan sebaliknya, apabila Anda melihat dunia ini sangat bersahabat, menyenangkan dan penuh perhatian , andapun akan berperilaku peduli, terbuka dan suka berbagi serta akan saling membantu.

Ingatlah, seandainya anda gagal dalam ujian nasional nanti, itulah cambuk kita! Kita semakin tertantang untuk berjuang dan belajar penuh semangat untuk berprestasi dan cobalah eksplorasi kemampuan, bakat dan minat anda yang masih terpendam. Ingat, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Kita diberi oleh Tuhan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pandailah mengeksplorasi kemampuan, bakat, minat kita sendiri-sendiri agar kita mampu melakukan aktualisasi diri. Dan juga pandailah melihat kekurangan pada diri kita. Ingat kekurangan pada diri kita orang lain pun mempunyainya. Jangan disikapi berlebihan dengan menyalahkan diri sendiri!

Penutup

Sebentar lagi pengumuman Ujian Nasional. Kita harus siap dengan segala konskuensinya. Mengulang/Tidak mengulang atau bahkan nanti dinyatakan tidak lulus, bukanlah beban yang berlebihan, tetapi kita harus menyikapi seperti dengan melakukan penyadaran diri berikut ini

  1. Mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri;
  2. Menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguan-gangguan secara berarti;
  3. Menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional ;
  4. Pahami betul, kita telah berfikir rasional atau irrasional
  5. Menerima kenyataan bahwa, jika kita mengharap untuk berubah, kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti; dan
  6. Mulai dari sekarang untuk mengubah pikiran-pikiran irrasional kita menjadi pikiran-pikiran rasional, sehingga kita mampu menjadi pribadi yang mandiri, tegar dan berdaya.

terimakasih

9 Tanggapan

  1. Kalau ingat ujian nasional saya jadi ingat Prof. Cubberley, dekan fakultas pendidikan universitas stanford. dia pernah nulis begini: “sekolah kita adalah perusahaan dimana produk mentahnya (siswa) dibentuk dan diolah. dan merupakan bisnis bagi sekolah untuk mencetak para siswanya agar sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.”
    coba, gila tidak, ada anak yang berpotensi menjadi seperti pablo picasso, ada yang punya potensi menjadi John lennon, yang lainnya berpotensi menjadi seperti mario teguh. tapi sekolah berusaha mencetak siswa menjadi seperti Einstein tanpa terkecuali.
    sebenarnya, kita masih butuh sekolah apa tidak to mas?

    betul mas Eko, harusnya anak belajar dan didik untuk tumbuh kembang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya. Nampaknya sementara ini aspek koqnitif masih dijadikannya acuan utama, sementara aspek afektif dan psikomotor siswa kurang mendapatkan perhatian. Selain sekolah, orang tua dan lingkungan berkewajiban mendidik dan membentuk karakter anak-anaknya. Einstein pernah bilang:”Sebetulnya saya tidak lebih cerdas dari orang lain. Cuma, saya beruntung dapat menemukan bidang yang klop dengan minat dan keunggulan saya.” Jadi kita masih butuh sekolah dengan segala kekurangannya. Kalau nggak ada sekolah gurunya mau ngajar dimana mas? he3….

  2. makasih telah mampir k situs ku sobat. aku dah add blog ini di blog ku, silahkan cek d blogroll. makasih

    sama-sama, trims kembali

  3. sorry baru bisa kunjungan balik… thanks uda nglink blog dunia psikologi… blog kamu uda aq link balik…

    thank’s

  4. Terkait dengan UN ini, saya masih bersikap mendua. Di satu sisi UN adalah barometer kemajuan pendidikan secara nasional.
    Di sisi lain, terasa aneh, sekolah yang sharusnya menjadi tempat yang menyenangkan dalam mengembangkan diri, tapi kenapa malah tampil menjadi sosok yang menyeramkan dan membuat anak stress.
    Terima kasih

    • Kita sangat menghargai usaha Kementerian Pendd. Nas, tentang penyelenggaraan un utk, evaluasi dan standarisasi pendd nas. Namun menggunakan UN sbg. syarat lulus (walau bukan satu-satunya) menimbulkan ekses negatif. Ditengarahi dengan kecurangan2 yg semakin massif, adanya pihak yg memberikan jawaban melalui sms, membiarkan siswa saling menyontek dll akan memberi efek bias dari tujuan UN itu sendiri. Bentuk ketakutan sekolah lainnya adalah, banyak sekolah yg rela “mengorbankan mata pelj. lain dan hanya fokus pd. mata pelaj. UN.
      Biarkan guru yg menetapkan syarat kelulusan siswa-siswinya, tanpa syarat nilai UN sbg. salah satu prasaratnya. Bukankah kita menginginkan kejujuran agar UN dpt. mengukur apa yg ingin diukur?
      Biarkan siswa menyelesaikan “target pendidikannya” dengan penuh antusias dan riang gembira. Kita berharap siswa berfikir sekolah bukanlah semata2 ntk. lulus dan memperoleh nilai tinggi, tetapi siswa yg. benar-benar mampu beraktualisasi diri, baik dari sisi kemampuan umum, bakat, minat dan perkembangan pribadinya. Trims’s, pak.

    • Pak Sudrajat saja mendua, apalagi saya.

  5. sii……..pp blognya semakin produktif.pingin deh rasanya bisa mengomentari tulisan shobat.Tapi saya rasa nanti pamali kalau mengomentari.Komentar saya, gimana ya caranya bisa sambung kembali dengan my friend yang luar biasa ini, terlalu sibuk kali….setiap menghubungi kok nggak pernah nyambung mungkin alamat dan no nya sudah ganti ya……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: