MEMBANGUN PRADAPAN MELALUI TRADISI DAN PEMBIASAAN


MEMBANGUN PERADAPAN MELALUI TRADISI DAN PEMBIASAAN

oleh: TRIYONO

Yang mau kita bangun adalah peradapan, peradapan bisa dibangun melalui budaya, budaya itu bisa dibangun melalui tradisi, tradisi itu bisa dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan, ini akan menjelma menjadi budaya, tradisi terus ujungnya menjadi peradapan sehingga kita tidak boleh membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik sehingga nantinya akan menjadi budaya kita sendir,” kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, saat membuka acara sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, di Hotel Bidakara, Kamis (14/01) dikutip dari    http://www.depdiknas.go.id

Latar Belakang

Di era pergaulan global,  norma, etika, sopan santun yang tadinya inklusif pada kelompok tertentu (golongan , ras, agama, kelompok social dan juga bangsa) akhirnya harus lebih ekskluif (terbuka) terhadap kelompok lain. Interaksi antar kelompok ini akhirnya melahirkan norma baru yang lebih bersifat global dan universal.

Disinilah masalah mulai timbul, sebab dengan hadirnya norma baru tersebut, generasi muda cenderung mempraktikkan norma baru ini dan lambat laun melupakan norma dasar (asli) kelompoknya. Hal ini diperparah dengan orang tua yang lupa mengajarkan kepada anaknya tentang norma, perilaku dan sopan santun sesuai dengan ajaran leluhurnya. Mungkin hal ini dianggap kuno atau ketinggalan jaman.

Sebagai contoh, berapa prosen (%) kah orang tua di Jawa yang mengajari anaknya untuk dialog sehari-hari menggunakan Bahasa Jawa?, Kemudian pertanyaan dipersempit, berapa prosen(%) kah orang tua di Jawa yang mengajari anaknya untuk berbahasa Jawa halus (andhap) kepada orang tua atau orang yang lebih dituakan?

Tentunya masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita sampaikan dan nanti akan kita bahas pada bagian berikutnya.

Etika dan sopan-santun adalah dasar kita menghormati orang lain dan hormat kepada orang lain merupakan apresiasi kita atas perilaku atau hasil karya yang mereka tunjukkan. Dengan kata lain kita akan mampu menghormati dan mengapresiasi hasil karya (prestasi) orang lain kalau norma, nilai-nilai, sikap dan perilaku terpuji sedari dini telah tertanam dalam sanubari ini.

Permasalahan

Dari latar belakang diatas, jelaslah bahwa permasalahan utama adalah rendahnya minat orang tua mengajari dan memberi pemahaman kepada anaknya tentang pentingnya berperilaku sesuai dengan budayanya sendiri. Selain itu peran sekolah sebagai rumah ke dua dari anak, bagaimana mampu menjadi model tentang perilaku terpuji dalam pergaulan sosial sehari-hari melalui layanan informasi dan kegiatan pembiasaan-pembiasaan. Dan tak kalah pentingnya adalah peranan lingkungan disekitar anak, mampukah lingkungan menciptakn kondisi yang memungkinkah siswa (anak) tumbuh kembang secara sehat baik secara fisik maupun psikologis.

Apabila hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka, selain perilaku anak yang kurang terpuji, kita akan menemukan generasi yang tidak

saling menghargai (apalagi saling menghormati) dan cenderung berapresiasi negative terhadap hasil karya orang lain.

Pembahasan Masalah

Dari permasalah diatas, ada tiga hal yang merupakan faktor utama yang bisa membentuk perilaku, budi pekerti luhur atau pembiasaan-pembiasaan positif terhadap diri remaja:

  1. Faktor Keluarga
  2. Faktor Lingkungan Sekolah
  3. Faktor Lingkungan Masyarakat.

Faktor Keluarga

Diatas telah disinggung sedikit tentang pentingnya peranan orang tua dalam membentuk karakter dan kepribadian anak yang salah satunya dengan mengajarkan cara berbahasa (Jawa halus) dalam pergaulan  sehari-hari kepada anak. Tentunya masih banyak contoh lain yang bisa kita kembangkan, yaitu berupa pembiasaan-pembiasaan lainnya sesuai lingkungan/budaya masing-masing. Hal lain adalah biasakan menghargai hasil karya anak walau bagaimana pun bentuknya. Sekali-kali jangan gunakan  cemoohan, cacian atau kata-kata lain yang meremehkan atau bahkan menghina hasil karya anak. Juga jangan suka membandingkan hasil karya anak anda dengan anak lain atau temannya. Kalau hal ini sampai  terjadi anak bisa menjadi down dan bisa menarik diri (withdrawal). Biasanya kalau anak jarang merasa dihargai usahanya, dewasanya kelak juga sulit menghargai dan mengapresiasi hasil karya orang lain.

Faktor Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Lebih dari 6 jam sehari anak berada di lingkungan sekolah. Selain berinteraksi dengan temannya, siswa juga berinteraksi dengan guru dan staff sekolah lainnya. Dalam hal ini anak akan sangat memperhatikan perilaku anak lainnya, guru dan staff sekolah untuk dijadikan model. Ada beberapa contoh pembiasaan-pembiasaan yang harus dilakukan disekolah, yakni:

  • Memberikan salam

Biasakan memberi salam setiap bertemu siapapun, salam ini bisa berbentuk verbal dan non verbal. Misalnya, tersenyum, mengangguk, melambaikan tangan dan dalam bentuk verbal misalnya ucapan Assalamu’alaikum, selamat pagi, selamat sore dan sejenisnya. Ucapan salam, selain dapat mengakrabkan suasana, salam juga merupakan perintah agama, dalam salam ada usaha saling mendoakan.

  • Mengetuk Pintu

Saat Guru mengajar, tiba-tiba ada guru lain yang nyelonong masuk, apa reksi kita? Sungguh sikap dan perilaku ini jangan sampai ada pada guru. Mengetuk pintu adalah langkah bijak, apakah kita diijinkan masuk ataukah akan mengganggu aktivitas KBM.

  • Awali setiap Aktifitas dengan Do’a

Kita semua paham, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang religius, dengan berdoa tentunya akan menambah spirit kita dalam beraktifitas.

  • Empati

Berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Ehm… bisa nggak ini dilakukan oleh guru. Ada gurauan yang disampaikan oleh guru, suatu hari ada siswanya yang mengeluh mempunyai masalah. Kemudian guru tersebut menjawab, “apa, punya masalah… lha bapak sendiri sekarang lagi banyak masalah…. “ .

  • Hargai hasil karya siswa

Sejelek apapun hasil karya siswa atau berapa pun nilai yang diperoleh siswa atas hasil ulangannya, hargai itu sebagai prestasi. Bagi siswa yang memperoleh hasil memuaskan berikan tanggungjawab yang lebih menantang, sedangkan yang belum tuntas, semangati dia bahwa sebenarnya dia mampu

  • Beri Hadiah

Memberi hadiah adalah bentuk penghargaan lainnya terhadap prestasi siswa, tetapi pemberian hadiah ini apabila tidak selektif, hadiah lama-lama tidak akan menjadi sesuatu yang membanggakan.

  • Beri kesempatan siswa memberikan pendapat

Mengkritik hasil karya orang lain itu hal biasa, tetapi siapkah guru dikritik atau diberi masukan oleh siswanya? Disinilah tempatnya siswa belajar menerima kekurangan dan kelebihannya dari sikap guru yang dikritik.

  • Bekerja Kelompok

Selalu sempatkan siswa untuk bekerja dan belajar berkelompok. Dengan belajar berkelompok siswa akan terbiasa mendengar dan berbagi pendapat dengan temannya.

Faktor Lingkungan Masyarakat

Masyarakat yang kondunsif, sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan mental anak. Anak akan banyak belajar dari model-model yang dilihatnya dan dalam interaksinya dengan masyarakat di sekelilingnya.

Kesimpulan

Perkembangan dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh pergaulannya baik di keluarga, di sekolah dan di masyarakat. Apabila siswa mendapatkan perlakuan yang menyenangkan, merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk aktualisasi diri, maka dikehidupannya selanjutnya, anak juga akan mampu menghargai dan mengapresiasi atas hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain.

referensi:

http://www.depdiknas.go.id

Satu Tanggapan

  1. Terimakasih tulisan dan informasinya. Kunjungi juga semua tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: